Deuh.. Dah lama juga ya gak update blog tercintaku ini. Dihitung-hitung sudah sekitar pas enam bulan sejak post terakhir aku yang bertemakan tentang uang.
Untuk update-an ini, temanya juga gak jauh-jauh tentang uang. Uang dan kebahagiaan lebih tepatnya. Aku ingin ngebahas tentang korelasi antara uang dan kebahagiaan.
Barusan baca blog ny Scott Adams, si jenius yang bikin komik Dilbert. Disitu dia ngasi pertanyaan unik yang sedikit menggelitik urat berpikirku:
Misalnya nih, ada jin baik hati yang ngasi temen-temen dua pilihan:
pilihan A: Dia bakal ngasi kamu duit $10 juta dolar, tapi temen-temen yang kamu kenal bakal kecepretan $20 juta dolar.
Pilihan B: Kamu dapet $5 juta dolar, tapi yang laen gak dapet apa-apa.
Sebagai bonus, si Jin juga bakal ngehapus memori kamu kalau kamu dah bikin pilihan itu, jadi kamu gak bakal ngerasa bersalah. Yang kamu ingat cuma bangun besok paginya, dengan duit di tangan. Mana yang bakal kamu pilih?
Well, jujur nih, sebagai manusia normal, tentunya aku bakal milih option B. Pengennya gak dibilang egois, tapi segala keputusan yang kita ambil tentunya harus sejalan dengan keuntungan pribadi masing-masing. Suatu fakta yang gak bisa dipungkiri. Memangnya sejak kapan sih, kita bisa mikir soal kepentingan kelompok dan golongan? Dimana-mana kalau kita mau bertindak harus nyari selamet diri sendiri dulu kan?
Hal ini yang mungkin bisa aku bilang sebagai ‘kebahagiaan’. Memang benar juga argumen Adams tentang hal ini.
Happiness is based on the direction your life is heading (better or worse), and what you have compared to what you think you should have.
Katakanlah saya ngambil option A, saya dapat $10 juta dolar, saya bahagia cuma sesaat, tetapi saat saya melihat yang lain dapat $20 juta dolar tiba-tiba pasti saya merasa kebahagiaan yang saya rasa tiba-tiba hilang begitu saja. Saya merasa saya adalah orang paling miskin di dunia. Saya terus komplen, “Dosa apa yang telah saya lakukan?? Kok yang lain dapet $20 juta, sedangkan saya cuma dapat $10 juta..?”.
Manusia itu adalah makhluk yang tidak pernah puas. Manusia selalu mencari perbandingan dirinya dengan orang lain sebagai tolok ukur pencapaian diri mereka masing-masing. Perumpamaannya begini, saya bekerja banting tulang buat mencari makan, lihat tetangga baru beli sepeda motor baru. Istri bilang, “Pah, tuh liat tetangga baru beli sepeda motor tuh.. Masa kita gak punya?”. Diri kita pasti langsung termotivasi buat kerja lebih berat lagi.. Biar dapet duit lebih buat beli sepeda motor. Karena standar pencapaian hidup kita saat itu adalah yang namanya ‘sepeda motor’.
Saat sepeda motor sudah terbeli, lihat tetangga sebelahnya sudah beli mobil, standarnya berubah lagi. Begitu seterusnya sampai kita mempunyai lebih, atau paling tidak sama dengan yang orang lain punya. Standar sosial secara tidak langsung telah ditetapkan. Mau tidak mau kita harus mengikuti.
Tapi kadang tidak sedikit orang yang bersikap idealis, berpikir kalau gaya hidup seperti ini adalah buruk. Gaya hidup yang konsumtif, yang lebih mementingkan prestise daripada kebutuhan utama. Permisi tanya, apakah saudara (jujur ya) bahagia dengan kehidupan saudara? Kalau pencapaian hidup (self-actualization) saudara cuma ingin bisa makan, tidur, santai di rumah, selamat! Andalah yang selama ini negara-negara komunis cari. Segalanya sudah diatur dan ditetapkan, tanpa punya keinginan untuk ‘lebih’ dan mendorong terjadinya kompetisi.
Untung saya tidak seperti itu.