Malem minggu… Malem dimana kita harusnya pergi nongkrong sama temen-temen kita dan melupakan segala penat yang ada setelah 5 hari kita beraktifitas (caelah bahasanya…). Iyah, malem minggu tuh biasanya kalo gak cabut kemana, paling gak yah ngapain kek gtu, gak kaya orang dongo, cengo sendirian dikamar. Kaya aku sekarang. Hiks. Duit lagi seret neh… Mo cabut kaga bisa, dan demi penghematan terpaksa nongkrong sendirian pacaran sama laptop.

Kenapa yah kita ditakdirkan untuk gak punya duit disaat kbutuhan jasmaniah dan rohaniah sedang menggebu-gebunya. Kenapa yah waktunya selalu aja gak pas, ketika kita pengen banget sesuatu tetapi gak kesampaian karena kekurangan benda yang bernama DUIT… Dan kalo mo ditelusur lebih jauh lagi, kenapa kita butuh sesuatu yang namanya DUIT…

Uang, uang… Orang bisa gila karena uang… Kata orang kalo punya uang, lu pasang harga buat jidat lu, bisa dibeli. Ada juga orang bilang, uang gak bisa beli kebahagiaan. Beneran gak sih? Kalo uang gak bisa beli kebahagiaan, kenapa yah banyak orang kere yang sedih banget hidupnya gara-gara gak punya uang? Kenapa juga banyak orang kere yang gak bisa malem mingguan lantaran gak ada uang (gue banget nih…)?

Kalo kata aku bullshit lah itu, uang gak bisa beli kebahagiaan. Memang, di dunia ini uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang, sodara-sodara! Kita kimpoi pasti butuh uang… Pacaran mulu, tapi minta tebengan sama pacar kita berarti kita orangnya gak modal. Alamat diputus cepet-cepet itu sih. Kita mo parkir mobil butuh uang… Kita pipis aja butuh uang. Aargh!

Bisa gak ya kita hidup tanpa uang… Seperti konsep sosialisme yang sedikit utopis. Paling engga, bisa gak yah malem minggu seneng-seneng tanpa butuh keluar yang namanya DUIT?

Okay, so here we are… Memang kayanya aku sudah lama banget ya gak nulis blog. Kalo diitung-itung last post ku bertanggal 24 Februari 2009. Sekarang yang udah tanggal 12 Juni aja… Berarti kira-kira sekitar 4 bulanan yah aku ga ngeblog. Hmm..

Sodara-sodara, ada begitu banyak faktor yang mendasari kenapa seorang penulis, atau bahkan pura-puranya penulis, gak ngepublish tulisannya. Salah satu contohnya yang paling gampang adalah rasa malas yang begitu banyak mendera secara tiba-tiba sehingga membuat orang gak punya mood untuk nulis. Temen-temen pernah ngerasa gak sih, kalian terjebak di suatu keadaan dimana tangan gatel banget pengen nulis, tetapi di satu sisi yang lain otak kayanya blank ga ada yang bisa ditulis…? Saya sih sering banget, dan walau gak secara langsung berhubungan dengan rasa malas, tapi kondisi yang amat sangat menjengkelkan tersebut berujung pada ketidakniatan kita untuk menulis secara mendadak.

Di sisi yang lain, aku juga sering menemukan saat dimana tulisanku udah selesai dan dibaca ulang ternyata tiba-tiba aku ngerasa tulisan yang baru aku bikin kok kayanya katro banget yah. Mbulet dan gak to the point. Dan karena saya dikit-dikit berjiwa profesional (caelah…), biasanya yang aku lakuin kalo gak di edit ulang (dengan menghapus bagian-bagian yang dirasa gak penting), dan di rephrase kalimat yang bener-bener gak meaning untuk diceritakan. Hal itu berlanjut terus-terusan sampai pas tulisanku aku rasa bener-bener udah final, jadinya malah makin gak meaning…

Di lain hal, sering juga aku bener-bener gak punya waktu untuk nulis karena waktunya masih kepake untuk satu dan lain hal; waktunya gak mecing; ato bahkan minat kita untuk ngeblog kesedot sama hal-hal yang lain lebih menarik ketimbang nulis beratus-ratus kata di blog. Facebook lagi booming… Ditambah lagi dengan fenomena Twitter dan Tumblr yang menawarkan konsep microblogging. Dan ujung-ujungnya aku bertanya, akankah blogging menjadi kalah menarik?

Ah gak tau deh… Tapi yang jelas, di postingan aku yang sekarang (yang sama gak ada juntrungannya) aku pengen bilang kalau jangan sampai kalian males nulis, temen-temen! Menulis itu asik! HIDUP MENULIS!!

*watdefak???*

Not so-morning though, when I write this post.

Setiap kali aku ngeliat judul dari blog-ku, aku selalu tahu kalau setiap pagi mempunyai ceritanya sendiri. Cerita yang dimulai saat aku membuka mata dan menyulut sebatang rokok. Yang kemudian berlanjut saat aku menjejakkan kakiku keluar dan melihat ke langit itu, dan ditambah dengan hembusan angin pagi. Setiap pagi selalu memberiku pemikiran baru tentang arti hidupku.

Orang bilang, yesterday is history and tomorrow is a mystery. What matter the most is today.

Hari ini (harus) menjadi hari yang berbeda dari hari yang sebelumnya. Paling tidak hal itu yang aku tanamkan dari dulu. Karena aku berpikir, kalau hari ini sama saja dengan hari-hari sebelumnya, aku tentu tidak akan pernah sadar kesempatan apa yang Tuhan akan beri kepada aku di setiap detik-detik yang aku jalani. Seize the Day! Kata sang protagonis di film Dead Poet Society.

Sometimes I feel that every conversations lead into an argument. From the simple form of chit-chat to a deep talking with political or the global economic downturn issues have a every single aspect of being debatable. One party started the topic and the other party has an option to agree with it or set up the words against it. Realized or not, we are stucked in the world of linguistic uncertainties, where the best talker influencing the other.

Today’s world has changed. Recalling circa centuries back, whoever posseses the strongest forces wins. The power is all about defeating other nations, and collonialization is in every policy on the developed nations, leaving the collonialized remains the third world countries.

Nowadays by doing such a barbaric acts would leave them condemned and deemed as a country who has no respect to human rights. Evil as they might say. Take a look on America, with George W. Bush’s policy on Iraq, or maybe North Korea with its Nuclear Policy. They might be seen as inappropriate and against every nations’ dream of united peace.

The smart people never use forces nowadays. They use their brain. They don’t fight, they think. The beauty of argument and the skill of persuading people played a major role on how to win against the unseen ‘battle’. The Battle of winning the other people, by gaining the trusts. Obama had won these battles, as we can see his successful winning on becoming the 1stAfrican-American US president. Surely he had used his persuading and rhetorical skill well-done.

Now come to the thinking on how to win a people by a words, sure it’s not an easy task. Sometimes we have been faced with the certain difficulties on the linguistic skills such as inability to put the correct words, the failure to utter the sound reasoning, or maybe even poor grammatical uses that leads into ambiguity and unclear messages.

I have been facing all of these problems. And to be honest, I’m still facing it. But I still bear in my mind that somehow by improving my skill unto it, it will pay me off someday. I would recommend a great book for the people who had interest on it: How to Win Every Argument by Madsen Pirie. It explains you on every single fallacies are there and how to use it to tackle on every argument. It claimed that it could be dangerous weapon in wrong person’s hand.

Come to the end, I gratefully requests to all of my fellow friends to think. Think deeply on how to win your friends. How to win your enemies and how to win yourself by talking. Watching ‘Thank You For Smoking’ would be a great start.

Ibu.

Aku rindu engkau.

Aku rindu dijamah tangan lembutmu.

Aku ingin dibelai, dan ditidurkan di dalam rangkulmu.

Aku ingin mendengar suaramu, ibu..

Nina-bobo-kan aku, ibu..

 

(catatan seorang anak kecil di tengah perantauan)

2008

how20blog_badge_1 Huah… Postingan aku untuk yang kesekian kali di blog ini. Sudah yang kelima bulan ini, dan yang kesembilan sejak blog ini pertama kali dibuat. Ga jelek juga sih, mengingat akhir-akhir ini aku males banget nulis blog. Selain aku memang bukan penulis profesional yang bisa menulis walau lagi ga ada ide ato lagi bad mood, aku akhir-akhir ini juga lumayan sibuk. Sibuk kerja, sibuk ngurusin kuliah, dan sibuk ngurusin pacar =p.

Aku pertama kali nge-blog waktu kelas 3 SMA, dimana post pertama aku di-publish tanggal 13 November 2005. Hampir dua setengah tahun yang lalu.

Blog-ku yang bertajuk Diary of the Loser lebih banyak bercerita tentang pemikiran-pemikiranku (tidak jauh-jauh dari isi blog ini), walau isinya tergolong random, mengingat aku juga mem-posting sebagian dari pengalamanku yang bisa dikatakan tidak penting =p, sampai aku mem-posting lirik-lirik lagu ciptaanku. Diary of the Loser waktu itu merupakan prioritas pertamaku dalam kehidupanku waktu itu, karena minat jurnalistikku waktu itu sedang tinggi-tingginya (caelah..). Waktu itu aku berpikir akan sangat menyenangkan kalau orang-orang mengerti (atau minimal tahu) tentang apa yang sedang aku pikirkan saat itu, mengingat waktu itu aku adalah cuma sebagai remaja biasa yang sedang mencari jati diri, sehingga butuh pengakuan dan eksistensi.

Lambat laun, blog-ku yang dihosting di Blogspot tersebut mulai jarang aku update, dan setelah bertahan selama dua tahun aku mulai berimigrasi ke blogku yang baru yang dihosting di DeadJournal. Dan mengapa DeadJournal? Tidak ada alasan khusus. Waktu itu aku lihat DeadJournal merupakan blog yang simpel, yang tidak membutuhkan isi postingan yang panjang lebar seperti postingan ini. Bisa dibilang praktis blog-ku di DeadJournal cuma berperan sebagai micro-blogging seperti Twitter. Postingan-postinganku pun tergolong sangat-sangat sederhana, dengan panjang setiap post cuma 2-3 baris =p.

Dan akhir-akhir ini, minatku untuk menulis pun sedang tumbuh lagi. Kali ini aku menggunakan WordPress untuk tempat perlabuhanku (caelaaaahhh..) nge-blog. Terhitung sejak Maret aku mulai aktif nge-blog.

Harapan kedepannya sih, blog ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi teman-teman, dengan isi posting yang menitikberatkan pada opini-opini dan esai-esai singkat aku di blog ini. Di blog ini kalian tidak akan menemukan postingan-postingan tidak jelas dan tidak bermutu karena isi postingan di blog-ku ini telah melewati uji kendali mutu (quality control test) sebelum aku posting.

Ya! Setiap post yang akan di-publish akan aku cek 2-3 kali ditambah dengan koreksi bahasa dan menggunakan tata bahasa yang padat dan jelas. Isinya pun aku harap bisa sesuai dengan minat baca teman-teman, yang tidak menginginkan hal yang rumit-rumit tetapi cukup mengena sebagai bahan renungan.

Harapan kedepannya sih semoga aja blog-ku ini traffic-nya naik terus. Engga banyak-banyak =p. Dan kalau habis baca blog-ku jangan lupa naro komen ya!

Cheers!

Orang sibuk (katanya) identik dengan orang penting. Orang penting (katanya lagi) identik dengan orang sukses. Orang sukses harapannya ya mau jadi orang kaya. Jadi kalau mau dirunut dan di-link-and-match istilah kerennya, orang sibuk pasti pangkalnya jadi orang kaya. Tapi benarkah demikian?

Di Jepang, ada istilah Karoshi. Fenomena Karoshi ini adalah suatu kondisi dimana seseorang, saking giatnya bekerja, hingga lupa tidur maupun makan, sehingga mati kepayahan. Fenomena Karoshi ini cuma ada pada orang sibuk. Orang yang terlalu giat bekerja. Belum jadi orang kaya, tetapi sudah mati duluan. Ironis bukan?

Menurut hemat saya, orang bekerja itu pada hakikatnya untuk mencari makan. Titik. Tidak ada embel-embel lainnya. Kalau soal orang bekerja untuk hobi, atau untuk mencari jati diri, atau untuk mengisi waktu luang, itu lain ceritanya. Pada dasarnya mereka juga perlu makan bukan? Untuk makan orang perlu uang, dan uang hanya bisa didapat dengan cara bekerja, bukan memetik dari pohon.

Tetapi buntut-buntutnya, orang kerja mengalami suatu perubahan motivasi. Orang yang dulunya kerja hanya untuk mencari nafkah, semakin terobsesi dengan posisi jabatan di kantor/tempat kerja yang lain. Ya iya lah, semakin tinggi jabatannya, semakin tinggi pula gaji yang diterima. Uang gaji yang dulu hanya cukup untuk makan satu minggu, dengan naiknya jabatan menjadi cukup untuk satu bulan, 6 bulan dan seterusnya. Itu kalau naik jabatan terus. Bahkan orang-orang sudah ber-planning; nanti kalau saya sudah jadi karyawan, saya ingin menjadi boss di tempat saya kerja, atau bahkan menjadi CEO kalau beruntung.

Lalu, dengan obsesi setinggi itu, orang menjadi terkena sindrom Karoshi ini. Dia menjadi workaholic. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Demi memuaskan obsesi dia tersebut. Ujung-ujungnya malah dia bisa ‘mati’. Bisa keluarganya yang ‘mati’, hubungan relasi dengan sahabat yang ‘mati’ atau bahkan pribadinya bisa ikut ‘mati’.

Menurut saya tidak ada yang salah kok untuk mempunyai obsesi dan memperjuangkannya. Hal itu sangat disarankan malah. Orang yang tidak mempunya mimpi adalah seperti manusia tanpa jiwa. Hidupnya hampa tanpa tujuan.

Sekarang masalahnya ya itu tadi; intensitasnya. Orang menjadi salah kaprah antara work hard dan work smart. Dikiranya dengan work hard orang bisa sukses dengan cepat, padahal tidak. Harus dibedakan work hard dan work smart ini sendiri.

Analogi work hard dan work smart ini seperti keledai dan kuda. Keledai dan kuda sama bekerja dengan intensitas yang sama. Tetapi yang lebih mendapat credit adalah kuda, mengapa? Karena si kuda bekerja hanya jika dia bersama majikannya. Work smart. Keledai bisa bekerja banting tulang, naik-turun gunung membawa beban berat, sedangkan majikannya bisa dengan santai berjalan di sampingnya. Work hard.

Orang hendaknya menjadi si kuda, yang dapat bekerja secara efisien, bukan sebagai keledai yang bekerja keras banting tulang, tetapi tetap saja tidak mendapatkan credit. Akhirnya bisa dibilang, orang yang bekerja sama seperti keledai ini (harapannya tidak) mati karena kena sindrom Karoshi ini.

bigstockphoto_Global_Warming_217540 Kalau kita memandang langit malam saat cuaca sedang cerah, kita pasti dapat melihat ada ribuan bintang yang bersinar terang. Disamping bintang-bintang itu selalu terlihat bulan yang ikut bersinar menerangi sang malam. Jika semua itu dipadukan dengan kanvas langit malam yang gelap, kita akan melihat lukisan paling indah yang bisa dinikmati oleh manusia. Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan lukisan tersebut, selain ciptaan sang Khalik sendiri.

Tuhan memang ajaib. Dan Tuhan tentunya punya cita rasa seni yang begitu tinggi. Betapa tidak, Dia telah menempatkan karya instalasi yang benar-benar pas pada tempatnya sehingga tercipta suatu perpaduan yang membangkitkan decak kagum si penikmatnya.

Tidak terbatas pada langit malam saja, ketika kita melihat gunung-gunung di pedesaan dan dihiasi oleh rimbunnya pepohonan, kita akan melihat betapa agung karya-Nya. Dan ketika kita melangkahkan kaki kita menuju tempat bersalju, kita akan melihat hamparan putih selimut salju dimana akan terasa damai dan kelam disaat yang bersamaan. Memang, alam kita bisa membuat emosi kita bergejolak. Alam yang merupakan karya instalasi paling agung yang bisa dinikmati oleh kita.

Tetapi saat kita melangkahkan kaki kita menuju perkotaan, semua itu berubah menjadi karya instalasi yang artifisial. Memang indah, tetapi terlalu kaku. Gedung-gedung yang menjulang tinggi seakan menggambarkan bagaimana congkaknya seorang anak manusia, dan jalan-jalan yang tertutup oleh aspal sungguh menyiratkan bagaimana konservasifitas seorang manusia. Tidak ada dinamika alami seperti yang alam miliki.

Dan yakinlah, 50 tahun kedepan kita akan sulit untuk menikmati karya seni ini. Kita harus merogoh kocek kita hanya untuk bisa melihat langit malam. Malam di Singapore pasti berwarna merah karena pendaran lampu-lampu perkotaan. Belum lagi langit malam di Jakarta yang hampir mustahil untuk bisa melihat bintang, karena pekatnya polusi dan smog yang tebat. Orang hanya bisa melihat bintang lewat planetarium atau science center yang merupakan buatan manusia. Bahkan di Tokyo, Jepang, orang harus membayar harga yang mahal untuk sekedar bisa menikmati pantai, karena pantai itu indoor.

Manusia memang makhluk cerdas yang ingin bisa meniru Tuhan. Kita berusaha menciptakan alam, disamping merusaknya. Tuhan telah mempunyai cara-Nya sendiri untuk membangun dan menghancurkan ciptaan-Nya. Yang tentu saja rancangan-Nya telah mempunyai implikasi yang signifikan. Tetapi manusia bukanlah Tuhan…

Mungkin nanti ada saatnya kita harus membayar untuk sekedar bernafas…

Mungkin saja. Tidak lama lagi.

“NDESO”

oleh : Ika S. Creech *)

Nyinying 2 Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektor pun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu Mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik,para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya.

Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana negara dan benteng pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan istana raja-raja negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala Negara, punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing,
banyak seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (di Malaysia “Wanita Tak Senonoh”) , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN.

Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju.

Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100 juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :

- Orang bisa antri raskin sambil pegang hp

- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok

- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli dan
kulkas

- Orang bule mabuk karena kelebihan uang, orang kampung mabuk beli minuman patungan

- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala

- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya

- Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah

- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur

- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald

- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.

- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP

- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja

- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara Tembang Kenangan.

- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor

- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar

- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan

- Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang jg digandeng

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

*) Ika S. Creech, Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di
Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu
stasiun di Perancis.

taken from http://virologi.info/virologist/modules/news/article.php?storyid=268&com_id=559&com_rootid=546& #comment559

depressed_boy Ketika aku bangun pagi hari ini, aku ngerasa ada sesuatu yang beda di hari aku. Perbedaan yang aku rasain itu bukan sesuatu yang sensasional ataupun bombastis. Bisa juga kalian bilang hal itu sebagai hal yang biasa, yang bisa kalian katakan sebagai hal yang lumrah terjadi. Tetapi setiap orang selalu benci bangun dengan mood yang off. Yeah, I was having a bad mood.

Pagi hari ini seharusnya bisa menjadi permulaan hari untuk membangun suatu aktifitas baru yang justru bisa menjadi momok untuk pembangunan diriku. Membangun karakter. Membangun relasi. Membangun karier. Tetapi dengan mood yang begini, apa ya bisa, yang bahkan aku selalu menganggap semua hal adalah menjengkelkan. Sepanjang hari.

Ya. Sepanjang hari itu aku terus larut dalam suasana hatiku yang tidak enak. Hal-hal kecil pun bisa menjadi suatu hal yang aku anggap sebagai iritasi di hatiku. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih.

Orang bilang, don’t let mood controls you. Let you control the mood. Aku adalah pikiran bagi seluruh badan aku. Aku adalah pikiran bagi hati aku. Aku tidak seharusnya larut dalam pemikiran sempit seperti ini. Tetapi mood adalah sesuatu yang berkaitan dengan perasaan. Perasaan bisa datang dan bisa pergi. Perasaan pun bisa berubah-ubah tergantung kondisi. Sekarang kondisi macam apa yang bisa membuat aku engga bad mood lagi? Pertanyaan subyektif, artinya jawaban untuk pertanyaan ini adalah tergantung dari individu masing-masing.

Ada orang yang bisa senang, dan melupakan segala permasalahan mereka ketika mereka bertemu dengan teman-teman mereka. Ada pula orang yang bisa tenang ketika mereka duduk sendirian di taman sambil mendengarkan musik di mp3 player mereka. Dan ada pula orang yang hanya bisa tenang kalau mereka mengkonsumsi liquor, atau yang lebih ekstrim lagi mereka hanya bisa tenang kalau mengkonsumsi narkoba.

Banyak hal yang bisa mereka lakukan sebenarnya. Tetapi aku tidak. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu bagaimana cara mengkontrol perasaan aku. Tentu saja hal ini tidak berkaitan dengan personaliti aku sebagai orang melankolis. Tetapi aku bukanlah orang melankolis. Aku adalah orang koleris, dimana di suatu kesempatan aku bisa menjadi orang flegmatis, dan aku bisa menjadi orang sanguinis disaat mood aku lagi baik. Semua ini tergantung mood. Dan dalam hal ini pemikiran Aristoteles tentang sifat dasar seseorang adalah salah. Setidaknya bagi aku. Sifat dasarku ditentukan oleh mood ku. Perasaanku. Dan kalau aku (seumpama) bisa mengontrol mood aku, seperti yang orang-orang bilang, tentu saja aku bisa mengontrol sifat dasarku.

Aku hanyalah anak kecil yang sedang berusaha mencari jati diriku yang sebenarnya. Aku bukan manusia sempurna. Dan aku adalah individu unik. Aku hanya ingin didengar dan mendengar. Menghargai dan dihargai. Mungkin aku hanya butuh seseorang untuk menghargai aku, untuk bisa mengontrol jiwaku yang sedang resah. Mungkin.

*Suatu catatan di pagi buta*