Question 1:
Jika km mengetahui seorg wanita hamil, yg sdh memiliki 8 org anak, 3 diantaranya tuli, 2 diantaranya buta, 1 org keterbelakangan mental & wanita tsb terkena sipilis, apakah anda akan merekomendasikan ia untuk melakukan aborsi?

Bacalah pertanyaan selanjutnya dahulu sblm melihat jwban utk pertanyaan ini

Question 2:
Skrg waktunya utk pemilihan pemimpin dunia baru & hanya suara anda yg akan dihitung. Berikut ini adlh fakta dari ke tiga kandidat terpilih

Candidate A -
Bekerja sm dgn politisi yg tidak jujur & konsultasi dgn astrologis. Ia memiliki 2 istri. Ia jg merokok dan minum 8 – 10 martini perhari.

Candidate B -
Ia dikeluarkan dr kantor 2x, tidur smp siang, pemakai opium waktu sekolah & minum seperempat whiskey tiap mlm.

Candidate C -
Ia adlh pahlawan perang, vegetarian, tdk merokok, minum bir kadang-kadang & tdk prnh selingkuh.

Kandidat mana yang akan kamu pilih?
Buat keputusan, jgn mengintip, then scroll down for the
answer.

Candidate A: is Franklin D. Roosevelt.
Candidate B: is Winston Churchill.
Candidate C: is Adolph Hitler.

And, by the way, jwaban utk pertanyaan aborsi:
Jika jawabanmu IYA, km baru sj membunuh Beethoven.

Cukup menarik bkn? Membuat org berpikir sebelum menilai seseorg

Jgn pernah takut mencoba sesuatu yg baru

Remember:
Amatir membuat bahtera nuh
Profesional membuat titanic
Tetapi manakah yg tengelam?

Itu kenapa sesuatu yg kelihatannya sempurna blum tentu sempurna,demikian pula sesuatu yg biasa sj bisa menjadi luar biasa
So…
Be WISE & Don’t Judge Others by the CoVer !!
Yg keliatan baik blm tentu baik
Yg keliatan Buruk, blm tentu Buruk… :D

Timeline Twitter saya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hari-hari lain; penuh spam, tweet-tweet yang tergolong sampah, atau orang-orang yang mengobrol menggunakan RT (have you realized that it’s just plain annoying?). Mungkin saya sudah terbias dengan hal-hal tersebut hingga kebiasaan saya adalah pandangan mata yang tertuju kepada username twitter-nya pertama kali, bukan isinya. Otomatis saya langsung melewati user-user yang 99% isi tweet-nya sampah, sama sekali tidak worth untuk dibaca, dan langsung mencari apa yang menarik bagi saya.

Siang ini mata saya tertuju kepada tweet dari @DickoSteph. Tweet dia mengutip perkataan dari Shayne Ward:

“If our love was a fairy tale I would charge in and rescue you. On a yacht, baby, we would sail to an island where we’d say I do. And if we had babies they would look like you. It’d be so beautiful if that came true. You don’t even know how very special you are”

Dan juga:

“And if our love was a story book, we would meet on the very first page. The last chapter would be how I’m thankful for the life we’ve made. And if we had babies they would have your eyes. I would fall deeper watching you give life”

Pretty sentimental right? Sedikit emosional ditambah dengan elemen-elemen romansa khas penyair.

Hal yang pertama kali saya lihat jika membaca sebuah karya sastra adalah konteks kalimat dan metafora yang disajikan, baik itu sajak, puisi atau pantun. Walau quote-quote tersebut bukanlah merupakan karya sastra, tetapi quote-quote itu adalah salah satu hal yang bisa mencerahkan saya siang ini. Saya selalu menyukai tulisan yang mengandung permisalan. Tidak, saya bukanlah orang yang hidup pada angan-angan dan mimpi. Saya adalah orang yang realistis, rasional dalam berpikir; live by black and white. Tetapi hal yang membuat saya begitu mengagumi tulisan-tulisan pengandaian (yang terbentuk saat tumbuh mendengar cerita-cerita perumpamaan Yesus sejak kecil) adalah bahwa mereka sanggup menjelaskan hal-hal yang paling rumit sekalipun dengan bahasa yang lebih general. Yang walaupun diperlukan orang yang tepat untuk membuatnya, tetap saja salah satu inti dari bahasa metafora bertujuan untuk pengertian mendalam semua orang secara cepat dan mudah.

Kita bisa melihat Yesus mengajar dengan perumpamaan maupun Hans Christian Anderssen memberi pesan moral dengan fabel-fabelnya. Semua orang suka dengan perkataan simpel dan mudah dimengerti. Itulah mengapa tidak banyak dari kita suka bergaul dengan ilmuwan, tetapi kakek-nenek kita selalu dirindukan sampai saat kita dewasa sekalipun. Dan itulah mengapa saya sangat menyukai dongeng sebelum tidur, yang walaupun sampai usia saya yang sekarang, saya sangat menggemari cerita-cerita ringan tetapi penuh makna :)

Artikel koran Tempo tanggal 3 September 2010 memuat tulisan menarik tentang Neuroteologi. Artikel yang ditulis oleh Ioanes Rakhmat, seorang kritikus agama dan teologi, ini memaparkan kaitan antara proses syaraf-syaraf otak dengan perilaku beragama manusia. Menurutnya, perilaku beragama seorang anti-rasionalis fundamentalis, yang dengan kata lain penganut beragama taat-sampai mati tapi hanya berpikir dengan perasaan, menggunakan bagian otak yang disebut Amygdala dalam proses sistem neurologisnya. Bagian dari sistem limbik otak ini terutama berperan utama dalam memproses dan mengingat reaksi-reaksi emosional makhluk vertebrta kompleks, seperti manusia. Bagian ini juga merupakan bagian otak yang paling tua dalam sejarah evolusi biologis otak manusia, yang telah terbentuk sejak 450 juta tahun yang lalu, dan sudah menguasai kehidupan manusia sejak 150 juta tahun yang lalu.

Perilaku beragama yang rasional, menggunakan logika dan cara berpikir yang matang, menggunakan sirkuit otak yang disebut frontal lobes. Jika diaktifkan bersamaan dengan sirkuit anterior cingulate, orang akan dapat beragama secara rasional sekaligus “memiliki rasa cinta, bela rasa, dan empati yang tinggi terhadap kehidupan sesama”.

Secara ilmiah, frontal lobe mengandung sebagian besar dari neuron-neuron sensitif dopamine pada korteks serebral. Sistem dopamine ini berhubungan dengan penghargaan, atensi, memori jangka panjang, perencanaan, dan pengendalian. Lebih lanjut, kerusakan dari bagian ini berakibat pada buruknya kinerja sehari-hari, dan berpotensi pada skizofrenia.

Sedangkan amygdala berfungsi memproses rasa awas yang kemudian dibentuk menjadi rasa takut, amarah dan kebencian yang bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan seseorang. Rangsangan eksternal berkelanjutan dapat merusak bagian otak ini, dengan kata lain jika seseorang secara terus menerus tinggal dalam kondisi masyarakat yang keras, terfokus oleh rasa takut dan amarah serta kebencian, sirkuit amygdala terus menerus teraktifkan dan pada satu titik dapat mengalami kerusakan. Dampaknya seseorang dapat menjadi abusif dan tidak dapat mengenali rangsangan-rangsangan sosial, seperti tenggang rasa, hierarki maupun strata sosial. Suatu studi yang melibatkan seekor monyet yang mengalami kerusakan pada sirkuit ini menunjukkan perilaku merusak, tidak peduli kepada anaknya dan cenderung untuk meminta perhatian dengan cara-cara yang tidak sepatutnya.

Jika kita lihat lebih dalam lagi, semua bagian itu merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, dan semuanya befungsi menopang keseimbangan mental manusia. Jika satu bagian dari otak itu tidak berfungsi dengan baik, maka manusia itu dapat mengalami kecacatan mental; atau jika mendapat rangsangan lebih, maka manusia itu dapat mengalami kecenderungan yang tidak dapat dikatakan wajar. Dalam kaitannya dengan perilaku beragama manusia, tidaklah mengherankn jika ada salah satu agama, yang dalam perkembangannya, terus menerus “diberi makan” dengan kebencian, amarah dan kecemburuan maka yang terjadi adalah lahirnya seorang individu yang destruktif dan tidak mempunya kemampuan-kemampuan dasar dalam bersosialisasi.

Di dunia internasional kita melihat konflik Israel-Palestina yang tidak kunjung selesai; perilaku paranoia terhadap salah satu agama pasca serangan WTC 9 tahun silam; atau yang baru-baru ini terjadi: penusukan terhadap anggota jemaat HKBP di Ciketing. Semua ini menunjukkan bahwa kecenderungan orang yang terlibat dalam aksi radikalisme beragama tersebut mempunyai beberapa masalah dalam kaitannya dengan stimuli-stimuli otak yang diterimanya. Baik itu dalam proses pengembangan individunya atau kondisi lingkungannya yang mengakibatkan memungkinkannya terjadi “pencucian otak”.

Wallahualam.

Businessweeks edisi 15-21 Juli 2010 melaporkan bhwa 30% orang dewasa di China mengalami masalah kegemukan. Seperti yang diperkirakan Barry Hopkins, direktur International Inter-Disciplinary Obesity Center, University of North Carolina (Chapel Hill), angka ini cenderung naik 25% pada 2004. Sebenarnya hal ini cukup bisa ditebak, mengingat perekonomian China sedang tumbuh pesat. Seperti yang ditulis Businessweeks, “tingkat kemakmuran yang lebih tinggi, kurangnya aktivitas fisik, dan pola makan dengan lebih banyak daging serta makanan olahan mengakibatkan bertambahnya lingkar pinggang orang China”.

Lebih jauh terdapat fakta mencengangkan bahwa kenaikan itu menghambat rencana pemerintah China untuk merombak sistem layanan kesehatan yang membuat lebih dari 300 juta orang tidak memiliki asuransi. Wang Shiyong, pakar kesehatan senior Bank Dunia di Beijing mengatakan bahwa walau terdapat anggaran $125 miliar, namun rencana itu “hanya mencakup manfaat dasar, dan bukan layanan seperti rawat jalan untuk penyakit kronis tekait obesitas”.

Implikasiny adalh banyak dari orang China tidak memiliki jaminan atas masa depan mereka. 92 juta orang dewasa di China menderita diabetes tipe 2 dan selebihnya menderita penyakit yang biasa dikaitkan dengan kehidupan diet kalori tinggi seperti laiknya penyakit perkotaan yang lain. Sekedar pebandingan, 68% orang dewasa di Amerika mengalami masalah yang sama. Sementara,keprihatinan pemerintah Chin tampakny tidak cukup baik untuk mengatasi masalah tersebut, hal ini diperparah dengan laju tingkat obesitas orang dewasa China yang cenderung naik setiap tahunny.

Walaupun hal-hal yang telah dipaparkan adalah jenis temuan yang tidak terlalu mengagetkan, beberapa hal bis kita lihat menjadi peluang bisnis. Sebagai negara dengn jumlah penduduk terbesar di dunia, pasar bisnis asuransi adalah salah satu bisnis yang bakal meraup untung besar. Hal ini berkaitan dengan terhambatnya rencana pemerintah China untuk meng-cover 1,3 miliar penduduk China pada 2020. Dan berkaitan dengan masalh kesehatan tersebut, bisnis klub kesehatan telah mengambil peran terlebih dahulu dengan tersebarnya 3.000 klub kesehatan yang tersebar di seluruh China, dan sekitar 3 jutanya adalah anggota aktif.

Melihat fakta-fakta dasar ini agak tidak membutuhkan seorang pebisnis handal )seperti saya :) untuk mendapatkan isyarat bahwa tampaknya masalah kesehatan pun bisa menjadi uang. Potensi pasar China yang sangat besar ditambah dengan peluang bisnis yang tersedia dari kurangnya andil pemerintah tersebut mengisyaratkan bakal menjamurnya bisnis asuransi di kemudian hari.

Just my 2 cents.

Sometimes..
I wish I was brave
I wish I was stronger
I wish I could feel no pain
I wish I was young
I wish I was shy
I wish I was honest
I wish I was you not I

‘Cause I feel so mad
I feel so angry
I feel so callous
So lost, confused, again
I feel so cheap
So used, unfaithful
Let’s start over
Let’s start over

Sometimes
I wish I was smart
I wish I made cures for
How people are
I wish I had power
I wish I could lead
I wish I could change the world
For you and me

‘Cause I feel so mad
I feel so angry
I feel so callous
So lost, confused, again
I feel so cheap
So used, unfaithful
Let’s start over
Let’s start over

‘Cause I feel so mad
I feel so angry
I feel so callous
So lost, confused, again
I feel so cheap
So used, unfaithful
Let’s start over
Let’s start over

I feel so mad
I feel so angry
I feel so callous
So lost, confused, again
I feel so cheap
So used, unfaithful
Let’s start over
Let’s start over

‘ve got an angel
She doesn’t wear any wings
She wears a heart that could melt my own
She wears a smile that could make me want to sing

She gives me presents
With her presence alone
She gives me everything I could wish for
She gives me kisses on the lips just for coming home

She can make angels
I’ve seen it with my own eyes
You got to be careful when you’ve got good love
‘Cause them angels will just be multiplying

But you’re so busy changing the world
Just one smile and you could change all of mine
We share the same soul
Oh oh oh ohh

We share the same soul
Oh oh oh ohh
We share the same soul
Oh oh oh ohh
Oh oh oh ohh

Mmm mmm mmm mmmm

Entah kenapa malam ini berasa panjang banget. Mungkin karena malam ini adalah malam yang cerah, dan aku bisa ngeliat bintang itu lagi diatas kepalaku setengah jam yang lalu sebelum aku masuk ke kamarku. Saat itu kami sedang berbicara di telpon, ngomongin banyak hal, mulai dari kangen-kangenan sambil curcol mengenai apa yang sedang kita alami di tempat kita masing-masing. Aku dan dia memang jauh sehingga cuma bicara lewat telpon lah yang bisa mengurangi perasaan yang sedang aku alami. Dan lewat telpon lah kami bicara malam ini, diluar.. Dan tampaklah bintang itu lagi untuk yang kesekian kalinya. Bintang itu datang lagi untuk menyapaku, penampakannya seakan menyiratkan kehadiran si dia yang jauh disana dan suara di telepon itu makin meyakinkan aku kalau dia ada untuk aku malam ini.

Dan kamipun berbicara panjang di telepon, hingga tiba saat dia bercerita apa yang dia alami pagi tadi. Jujur, perasaan itu tiba-tiba datang lagi. Perasaan 4 tahun lalu yang entah mengapa seakan bangkit dari memoriku yang terdalam. Setengah jam yang lalu tanganku bergetar dan dadaku sakit. Aku benci perasaan itu.

Aku tidak menyalahkan dia karena dia berkata jujur, toh aku juga memaksa dia untuk bercerita tentang keadaan dia hari itu. Tapi mungkin aku orang egois, terlalu posesif. Setidaknya untuk setengah jam yang lalu. Terlalu naifkah aku untuk berkata seperti itu? Dan malam itu aku melihat segumpal awan datang untuk menutupi bintang itu diatasku. Kamipun berjanji untuk saling berkata jujur untuk apa saja yang telah terjadi, baik atau buruk. Sampai aku masuk ke dalam rumah, dan aku menutup malam itu dengan kalimat, “aku sayang banget ma kamu, na…”

kuhanya ingin tahu apa arti dari semua ini
semua perasaan yang kurasa
yang kutiti dengan hati-hati
seperti debur ombak yang menghantam karang lautan
seperti riak gelombang pasang mengalun di sela dinginnya malam
sungguh indah perasaan ini,,

inilah perasaanku
inilah gejolak jiwa yang sedang marah
yang sedang sedih
yang sedang ingin berteriak
yang sedang ingin mengaduh
mengeluh pada Tuhan

inginku merangkak di sela kegelapan malam
menyobek tabir yang menutupi segala terang nya
satu demi satu kata yang terucap dari bibir ini
rupanya hanya satu rasa yang kurasa

aku kangen,,

sekarang,
apakah aku sedang gila?

tidak, rupanya tidak,
aku hanya sedang mencari arti hidup
aku hanya sedang merentang asa
aku hanya sedang berdiam

dibalik nafinya diriku
kututupi dengan tahi-tahi hangat
manis madu dan pahit racun
aku hanya tidak ingin semua orang tahu kalau

aku kangen,,

ps. sebenernya ini puisi lama bgd, aku buat pas April dua tahun lalu. Sempet aku post di blog ku yang pertama. Tapi karena berhubung aku baca-baca lagi ternyata isinya ga jelek juga, jadi worth bgd lah ya, di-repost ulang. :)

Deuh.. Dah lama juga ya gak update blog tercintaku ini. Dihitung-hitung sudah sekitar pas enam bulan sejak post terakhir aku yang bertemakan tentang uang.

Untuk update-an ini, temanya juga gak jauh-jauh tentang uang. Uang dan kebahagiaan lebih tepatnya. Aku ingin ngebahas tentang korelasi antara uang dan kebahagiaan.

Barusan baca blog ny Scott Adams, si jenius yang bikin komik Dilbert. Disitu dia ngasi pertanyaan unik yang sedikit menggelitik urat berpikirku:

Misalnya nih, ada jin baik hati yang ngasi temen-temen dua pilihan:
pilihan A: Dia bakal ngasi kamu duit $10 juta dolar, tapi temen-temen yang kamu kenal bakal kecepretan $20 juta dolar.
Pilihan B: Kamu dapet $5 juta dolar, tapi yang laen gak dapet apa-apa.

Sebagai bonus, si Jin juga bakal ngehapus memori kamu kalau kamu dah bikin pilihan itu, jadi kamu gak bakal ngerasa bersalah. Yang kamu ingat cuma bangun besok paginya, dengan duit di tangan. Mana yang bakal kamu pilih?

Well, jujur nih, sebagai manusia normal, tentunya aku bakal milih option B. Pengennya gak dibilang egois, tapi segala keputusan yang kita ambil tentunya harus sejalan dengan keuntungan pribadi masing-masing. Suatu fakta yang gak bisa dipungkiri. Memangnya sejak kapan sih, kita bisa mikir soal kepentingan kelompok dan golongan? Dimana-mana kalau kita mau bertindak harus nyari selamet diri sendiri dulu kan?

Hal ini yang mungkin bisa aku bilang sebagai ‘kebahagiaan’. Memang benar juga argumen Adams tentang hal ini.

Happiness is based on the direction your life is heading (better or worse), and what you have compared to what you think you should have.

Katakanlah saya ngambil option A, saya dapat $10 juta dolar, saya bahagia cuma sesaat, tetapi saat saya melihat yang lain dapat $20 juta dolar tiba-tiba pasti saya merasa kebahagiaan yang saya rasa tiba-tiba hilang begitu saja. Saya merasa saya adalah orang paling miskin di dunia. Saya terus komplen, “Dosa apa yang telah saya lakukan?? Kok yang lain dapet $20 juta, sedangkan saya cuma dapat $10 juta..?”.

Manusia itu adalah makhluk yang tidak pernah puas. Manusia selalu mencari perbandingan dirinya dengan orang lain sebagai tolok ukur pencapaian diri mereka masing-masing. Perumpamaannya begini, saya bekerja banting tulang buat mencari makan, lihat tetangga baru beli sepeda motor baru. Istri bilang, “Pah, tuh liat tetangga baru beli sepeda motor tuh.. Masa kita gak punya?”. Diri kita pasti langsung termotivasi buat kerja lebih berat lagi.. Biar dapet duit lebih buat beli sepeda motor. Karena standar pencapaian hidup kita saat itu adalah yang namanya ‘sepeda motor’.

Saat sepeda motor sudah terbeli, lihat tetangga sebelahnya sudah beli mobil, standarnya berubah lagi. Begitu seterusnya sampai kita mempunyai lebih, atau paling tidak sama dengan yang orang lain punya. Standar sosial secara tidak langsung telah ditetapkan. Mau tidak mau kita harus mengikuti.

Tapi kadang tidak sedikit orang yang bersikap idealis, berpikir kalau gaya hidup seperti ini adalah buruk. Gaya hidup yang konsumtif, yang lebih mementingkan prestise daripada kebutuhan utama. Permisi tanya, apakah saudara (jujur ya) bahagia dengan kehidupan saudara? Kalau pencapaian hidup (self-actualization) saudara cuma ingin bisa makan, tidur, santai di rumah, selamat! Andalah yang selama ini negara-negara komunis cari. Segalanya sudah diatur dan ditetapkan, tanpa punya keinginan untuk ‘lebih’ dan mendorong terjadinya kompetisi.

Untung saya tidak seperti itu. :)

Malem minggu… Malem dimana kita harusnya pergi nongkrong sama temen-temen kita dan melupakan segala penat yang ada setelah 5 hari kita beraktifitas (caelah bahasanya…). Iyah, malem minggu tuh biasanya kalo gak cabut kemana, paling gak yah ngapain kek gtu, gak kaya orang dongo, cengo sendirian dikamar. Kaya aku sekarang. Hiks. Duit lagi seret neh… Mo cabut kaga bisa, dan demi penghematan terpaksa nongkrong sendirian pacaran sama laptop.

Kenapa yah kita ditakdirkan untuk gak punya duit disaat kbutuhan jasmaniah dan rohaniah sedang menggebu-gebunya. Kenapa yah waktunya selalu aja gak pas, ketika kita pengen banget sesuatu tetapi gak kesampaian karena kekurangan benda yang bernama DUIT… Dan kalo mo ditelusur lebih jauh lagi, kenapa kita butuh sesuatu yang namanya DUIT…

Uang, uang… Orang bisa gila karena uang… Kata orang kalo punya uang, lu pasang harga buat jidat lu, bisa dibeli. Ada juga orang bilang, uang gak bisa beli kebahagiaan. Beneran gak sih? Kalo uang gak bisa beli kebahagiaan, kenapa yah banyak orang kere yang sedih banget hidupnya gara-gara gak punya uang? Kenapa juga banyak orang kere yang gak bisa malem mingguan lantaran gak ada uang (gue banget nih…)?

Kalo kata aku bullshit lah itu, uang gak bisa beli kebahagiaan. Memang, di dunia ini uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang, sodara-sodara! Kita kimpoi pasti butuh uang… Pacaran mulu, tapi minta tebengan sama pacar kita berarti kita orangnya gak modal. Alamat diputus cepet-cepet itu sih. Kita mo parkir mobil butuh uang… Kita pipis aja butuh uang. Aargh!

Bisa gak ya kita hidup tanpa uang… Seperti konsep sosialisme yang sedikit utopis. Paling engga, bisa gak yah malem minggu seneng-seneng tanpa butuh keluar yang namanya DUIT?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.