Orang sibuk (katanya) identik dengan orang penting. Orang penting (katanya lagi) identik dengan orang sukses. Orang sukses harapannya ya mau jadi orang kaya. Jadi kalau mau dirunut dan di-link-and-match istilah kerennya, orang sibuk pasti pangkalnya jadi orang kaya. Tapi benarkah demikian?
Di Jepang, ada istilah Karoshi. Fenomena Karoshi ini adalah suatu kondisi dimana seseorang, saking giatnya bekerja, hingga lupa tidur maupun makan, sehingga mati kepayahan. Fenomena Karoshi ini cuma ada pada orang sibuk. Orang yang terlalu giat bekerja. Belum jadi orang kaya, tetapi sudah mati duluan. Ironis bukan?
Menurut hemat saya, orang bekerja itu pada hakikatnya untuk mencari makan. Titik. Tidak ada embel-embel lainnya. Kalau soal orang bekerja untuk hobi, atau untuk mencari jati diri, atau untuk mengisi waktu luang, itu lain ceritanya. Pada dasarnya mereka juga perlu makan bukan? Untuk makan orang perlu uang, dan uang hanya bisa didapat dengan cara bekerja, bukan memetik dari pohon.
Tetapi buntut-buntutnya, orang kerja mengalami suatu perubahan motivasi. Orang yang dulunya kerja hanya untuk mencari nafkah, semakin terobsesi dengan posisi jabatan di kantor/tempat kerja yang lain. Ya iya lah, semakin tinggi jabatannya, semakin tinggi pula gaji yang diterima. Uang gaji yang dulu hanya cukup untuk makan satu minggu, dengan naiknya jabatan menjadi cukup untuk satu bulan, 6 bulan dan seterusnya. Itu kalau naik jabatan terus. Bahkan orang-orang sudah ber-planning; nanti kalau saya sudah jadi karyawan, saya ingin menjadi boss di tempat saya kerja, atau bahkan menjadi CEO kalau beruntung.
Lalu, dengan obsesi setinggi itu, orang menjadi terkena sindrom Karoshi ini. Dia menjadi workaholic. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Demi memuaskan obsesi dia tersebut. Ujung-ujungnya malah dia bisa ‘mati’. Bisa keluarganya yang ‘mati’, hubungan relasi dengan sahabat yang ‘mati’ atau bahkan pribadinya bisa ikut ‘mati’.
Menurut saya tidak ada yang salah kok untuk mempunyai obsesi dan memperjuangkannya. Hal itu sangat disarankan malah. Orang yang tidak mempunya mimpi adalah seperti manusia tanpa jiwa. Hidupnya hampa tanpa tujuan.
Sekarang masalahnya ya itu tadi; intensitasnya. Orang menjadi salah kaprah antara work hard dan work smart. Dikiranya dengan work hard orang bisa sukses dengan cepat, padahal tidak. Harus dibedakan work hard dan work smart ini sendiri.
Analogi work hard dan work smart ini seperti keledai dan kuda. Keledai dan kuda sama bekerja dengan intensitas yang sama. Tetapi yang lebih mendapat credit adalah kuda, mengapa? Karena si kuda bekerja hanya jika dia bersama majikannya. Work smart. Keledai bisa bekerja banting tulang, naik-turun gunung membawa beban berat, sedangkan majikannya bisa dengan santai berjalan di sampingnya. Work hard.
Orang hendaknya menjadi si kuda, yang dapat bekerja secara efisien, bukan sebagai keledai yang bekerja keras banting tulang, tetapi tetap saja tidak mendapatkan credit. Akhirnya bisa dibilang, orang yang bekerja sama seperti keledai ini (harapannya tidak) mati karena kena sindrom Karoshi ini.



3 comments
Comments feed for this article
May 10, 2008 at 12:47 pm
jay
GOood Jobs Brooo…
kita harus kerja keras layaknya kuda..
kerja secara efisien sehingga dapet kredit juga…
hehehehe
dapet ide dari mana ya????
keep on fire…
Gbu…
May 10, 2008 at 1:20 pm
felix2002
betul bro… setuju…
begitu juga dengan belajar..
Kita gak harus belajar secara membabi buta buat dapet nilai bagus, dan buat dapet kerjaan bagus..
Yang penting kita juga harus belajar secara smart buat dapet nilai bagus dan pekerjaan yang mantep…
May 28, 2008 at 7:55 pm
hypostases
hypostases says : I absolutely agree with this !