bigstockphoto_Global_Warming_217540 Kalau kita memandang langit malam saat cuaca sedang cerah, kita pasti dapat melihat ada ribuan bintang yang bersinar terang. Disamping bintang-bintang itu selalu terlihat bulan yang ikut bersinar menerangi sang malam. Jika semua itu dipadukan dengan kanvas langit malam yang gelap, kita akan melihat lukisan paling indah yang bisa dinikmati oleh manusia. Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan lukisan tersebut, selain ciptaan sang Khalik sendiri.

Tuhan memang ajaib. Dan Tuhan tentunya punya cita rasa seni yang begitu tinggi. Betapa tidak, Dia telah menempatkan karya instalasi yang benar-benar pas pada tempatnya sehingga tercipta suatu perpaduan yang membangkitkan decak kagum si penikmatnya.

Tidak terbatas pada langit malam saja, ketika kita melihat gunung-gunung di pedesaan dan dihiasi oleh rimbunnya pepohonan, kita akan melihat betapa agung karya-Nya. Dan ketika kita melangkahkan kaki kita menuju tempat bersalju, kita akan melihat hamparan putih selimut salju dimana akan terasa damai dan kelam disaat yang bersamaan. Memang, alam kita bisa membuat emosi kita bergejolak. Alam yang merupakan karya instalasi paling agung yang bisa dinikmati oleh kita.

Tetapi saat kita melangkahkan kaki kita menuju perkotaan, semua itu berubah menjadi karya instalasi yang artifisial. Memang indah, tetapi terlalu kaku. Gedung-gedung yang menjulang tinggi seakan menggambarkan bagaimana congkaknya seorang anak manusia, dan jalan-jalan yang tertutup oleh aspal sungguh menyiratkan bagaimana konservasifitas seorang manusia. Tidak ada dinamika alami seperti yang alam miliki.

Dan yakinlah, 50 tahun kedepan kita akan sulit untuk menikmati karya seni ini. Kita harus merogoh kocek kita hanya untuk bisa melihat langit malam. Malam di Singapore pasti berwarna merah karena pendaran lampu-lampu perkotaan. Belum lagi langit malam di Jakarta yang hampir mustahil untuk bisa melihat bintang, karena pekatnya polusi dan smog yang tebat. Orang hanya bisa melihat bintang lewat planetarium atau science center yang merupakan buatan manusia. Bahkan di Tokyo, Jepang, orang harus membayar harga yang mahal untuk sekedar bisa menikmati pantai, karena pantai itu indoor.

Manusia memang makhluk cerdas yang ingin bisa meniru Tuhan. Kita berusaha menciptakan alam, disamping merusaknya. Tuhan telah mempunyai cara-Nya sendiri untuk membangun dan menghancurkan ciptaan-Nya. Yang tentu saja rancangan-Nya telah mempunyai implikasi yang signifikan. Tetapi manusia bukanlah Tuhan…

Mungkin nanti ada saatnya kita harus membayar untuk sekedar bernafas…

Mungkin saja. Tidak lama lagi.