Artikel koran Tempo tanggal 3 September 2010 memuat tulisan menarik tentang Neuroteologi. Artikel yang ditulis oleh Ioanes Rakhmat, seorang kritikus agama dan teologi, ini memaparkan kaitan antara proses syaraf-syaraf otak dengan perilaku beragama manusia. Menurutnya, perilaku beragama seorang anti-rasionalis fundamentalis, yang dengan kata lain penganut beragama taat-sampai mati tapi hanya berpikir dengan perasaan, menggunakan bagian otak yang disebut Amygdala dalam proses sistem neurologisnya. Bagian dari sistem limbik otak ini terutama berperan utama dalam memproses dan mengingat reaksi-reaksi emosional makhluk vertebrta kompleks, seperti manusia. Bagian ini juga merupakan bagian otak yang paling tua dalam sejarah evolusi biologis otak manusia, yang telah terbentuk sejak 450 juta tahun yang lalu, dan sudah menguasai kehidupan manusia sejak 150 juta tahun yang lalu.

Perilaku beragama yang rasional, menggunakan logika dan cara berpikir yang matang, menggunakan sirkuit otak yang disebut frontal lobes. Jika diaktifkan bersamaan dengan sirkuit anterior cingulate, orang akan dapat beragama secara rasional sekaligus “memiliki rasa cinta, bela rasa, dan empati yang tinggi terhadap kehidupan sesama”.

Secara ilmiah, frontal lobe mengandung sebagian besar dari neuron-neuron sensitif dopamine pada korteks serebral. Sistem dopamine ini berhubungan dengan penghargaan, atensi, memori jangka panjang, perencanaan, dan pengendalian. Lebih lanjut, kerusakan dari bagian ini berakibat pada buruknya kinerja sehari-hari, dan berpotensi pada skizofrenia.

Sedangkan amygdala berfungsi memproses rasa awas yang kemudian dibentuk menjadi rasa takut, amarah dan kebencian yang bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan seseorang. Rangsangan eksternal berkelanjutan dapat merusak bagian otak ini, dengan kata lain jika seseorang secara terus menerus tinggal dalam kondisi masyarakat yang keras, terfokus oleh rasa takut dan amarah serta kebencian, sirkuit amygdala terus menerus teraktifkan dan pada satu titik dapat mengalami kerusakan. Dampaknya seseorang dapat menjadi abusif dan tidak dapat mengenali rangsangan-rangsangan sosial, seperti tenggang rasa, hierarki maupun strata sosial. Suatu studi yang melibatkan seekor monyet yang mengalami kerusakan pada sirkuit ini menunjukkan perilaku merusak, tidak peduli kepada anaknya dan cenderung untuk meminta perhatian dengan cara-cara yang tidak sepatutnya.

Jika kita lihat lebih dalam lagi, semua bagian itu merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, dan semuanya befungsi menopang keseimbangan mental manusia. Jika satu bagian dari otak itu tidak berfungsi dengan baik, maka manusia itu dapat mengalami kecacatan mental; atau jika mendapat rangsangan lebih, maka manusia itu dapat mengalami kecenderungan yang tidak dapat dikatakan wajar. Dalam kaitannya dengan perilaku beragama manusia, tidaklah mengherankn jika ada salah satu agama, yang dalam perkembangannya, terus menerus “diberi makan” dengan kebencian, amarah dan kecemburuan maka yang terjadi adalah lahirnya seorang individu yang destruktif dan tidak mempunya kemampuan-kemampuan dasar dalam bersosialisasi.

Di dunia internasional kita melihat konflik Israel-Palestina yang tidak kunjung selesai; perilaku paranoia terhadap salah satu agama pasca serangan WTC 9 tahun silam; atau yang baru-baru ini terjadi: penusukan terhadap anggota jemaat HKBP di Ciketing. Semua ini menunjukkan bahwa kecenderungan orang yang terlibat dalam aksi radikalisme beragama tersebut mempunyai beberapa masalah dalam kaitannya dengan stimuli-stimuli otak yang diterimanya. Baik itu dalam proses pengembangan individunya atau kondisi lingkungannya yang mengakibatkan memungkinkannya terjadi “pencucian otak”.

Wallahualam.

Advertisement