Timeline Twitter saya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hari-hari lain; penuh spam, tweet-tweet yang tergolong sampah, atau orang-orang yang mengobrol menggunakan RT (have you realized that it’s just plain annoying?). Mungkin saya sudah terbias dengan hal-hal tersebut hingga kebiasaan saya adalah pandangan mata yang tertuju kepada username twitter-nya pertama kali, bukan isinya. Otomatis saya langsung melewati user-user yang 99% isi tweet-nya sampah, sama sekali tidak worth untuk dibaca, dan langsung mencari apa yang menarik bagi saya.

Siang ini mata saya tertuju kepada tweet dari @DickoSteph. Tweet dia mengutip perkataan dari Shayne Ward:

“If our love was a fairy tale I would charge in and rescue you. On a yacht, baby, we would sail to an island where we’d say I do. And if we had babies they would look like you. It’d be so beautiful if that came true. You don’t even know how very special you are”

Dan juga:

“And if our love was a story book, we would meet on the very first page. The last chapter would be how I’m thankful for the life we’ve made. And if we had babies they would have your eyes. I would fall deeper watching you give life”

Pretty sentimental right? Sedikit emosional ditambah dengan elemen-elemen romansa khas penyair.

Hal yang pertama kali saya lihat jika membaca sebuah karya sastra adalah konteks kalimat dan metafora yang disajikan, baik itu sajak, puisi atau pantun. Walau quote-quote tersebut bukanlah merupakan karya sastra, tetapi quote-quote itu adalah salah satu hal yang bisa mencerahkan saya siang ini. Saya selalu menyukai tulisan yang mengandung permisalan. Tidak, saya bukanlah orang yang hidup pada angan-angan dan mimpi. Saya adalah orang yang realistis, rasional dalam berpikir; live by black and white. Tetapi hal yang membuat saya begitu mengagumi tulisan-tulisan pengandaian (yang terbentuk saat tumbuh mendengar cerita-cerita perumpamaan Yesus sejak kecil) adalah bahwa mereka sanggup menjelaskan hal-hal yang paling rumit sekalipun dengan bahasa yang lebih general. Yang walaupun diperlukan orang yang tepat untuk membuatnya, tetap saja salah satu inti dari bahasa metafora bertujuan untuk pengertian mendalam semua orang secara cepat dan mudah.

Kita bisa melihat Yesus mengajar dengan perumpamaan maupun Hans Christian Anderssen memberi pesan moral dengan fabel-fabelnya. Semua orang suka dengan perkataan simpel dan mudah dimengerti. Itulah mengapa tidak banyak dari kita suka bergaul dengan ilmuwan, tetapi kakek-nenek kita selalu dirindukan sampai saat kita dewasa sekalipun. Dan itulah mengapa saya sangat menyukai dongeng sebelum tidur, yang walaupun sampai usia saya yang sekarang, saya sangat menggemari cerita-cerita ringan tetapi penuh makna :)